Sejarah Peristiwa Trisakti 1998, Usaha Tegaknya Demokrasi

Posted by Ganas003 on Oktober 24, 2019 in
Tragedi Trisakti menjadi salah satu rangkaian kejadian menuntut reformasi sehabis krisis yang terus menimpa Indonesia semenjak awal 1998. Peristiwa bencana trisakti menjadi bukti masyarakat yang sudah tidak lagi puas dengan kepemimpinan Soeharto dengan menginginkan adanya perubahan untuk kondisi Indonesia.

Aksi demonstrasi dalam bencana trisakti tahun 1998 didominasi oleh para mahasiswa yang bergelora bersatu menentang pemerintahan sepuh Soeharto yang telah berkuasa selama 32 dinilai sudah tidak bisa lai mengatasi krisis yang menimpa Indonesia Saat itu.

Aksi demonstrasi dalam kejadian bencana trisakti yang awalnya berjalan dengan tenang seketika rusuh sehabis terdengar letus ledakan senjata api misterius yang menelan 4 korban jiwa mahasiswa trisakti.

Latar Belakang Tragedi trisakti 1998


krisis yang menimpa Indonesia tahun 1998 menciptakan masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan pemerintahan Soeharto. Mereka menuntut untuk reformasi, adanya perubahan terhadap kondisi di Indonesia.

Sejak ketika itu banyak mahasiswa turun ke jalan melaksanakan agresi demonstrasi ke gedung pemerintahan. Dimulai di yogyakarta sebelum sidang umum MPR 1998, hingga balasannya agresi demonstrasi meluas hingga ke ibukota, termasuk para mahasiswa universitas trisakti.

Peristiwa yang mengawali bencana trisakti terjadi tanggal 2 mei 1998 di depan kampus IKIP Rawamangun, pada ketika itu brimob menghadang mahasiswa. Selanjutnya, kejadian bentrok antara abdnegara dengan mahasiswa di Bogor.

Tanggal 5 Maret 1998 dalam sidang MPR, beberapa mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) melaksanakan pertemuan dengan fraksi ABRI untuk memberikan penolakan Laporan Petanggung jawaban (LPJ) Soeharto semasa menjabat sebagai presiden RI. Aksi itu tidak direspon.

Kekecewaan semakin memuncak sehabis Soeharto terpilih ketujuh kalinya sebagai Presiden Republik Indonesia dalam Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tanggal 11 maret 1998.

Tuntutan diwarnai dengan agresi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dari banyak sekali kampus. Universitas trisakti menjadi pusat sekaligus titik kumpul agresi demonstrasi 12 mei 1998 alasannya ialah letaknya yang strategis dari gedung dewan perwakilan rakyat MPR RI.

Kronologi Tragedi Trisakti 1998


Tragedi Trisakti menjadi salah satu rangkaian kejadian menuntut reformasi sehabis krisis  Sejarah Tragedi Trisakti 1998, Perjuangan Tegaknya Demokrasi



Puncak bencana trisakti terjadi pada tanggal 12 mei 1998 tepatnya di Grogol, Jakarta barat. Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa trisakti yang awalnya berjalan tenang bermetamorfosis kondisi yang mencengkam.

Ketika bencana ini berlangsung, presiden Soeharto sedang melaksanakan pertemuan KTT-G15 di Mesir. Beliau membahas mengenai warta perdamaian dan melaksanakan beberapa perjanjian dengan negara sesama anggota KTT-G15.

Sebab kerusuhan yang menimpa negaranya semakin panas menciptakan pertemuan ini diluar rencana, dia pulang ke Indonesia sehari lebih cepat untuk menghadapi duduk kasus yang jauh lebih besar, yaitu para mahasiswa yang menuntut dirinya lengser dari jabatannya sebagai Presiden RI.

Pukul 10.30 – 10.45

Para civitas akademika Universitas trisakti melaksanakan agresi tenang tepatnya di sekitar halaman parkir depaan gedung M atau gedung syarif thayeb. Aksi ini dimulai dengan mengumpulkan tokoh civitas universitas trisakti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat falkutas, dan karyawan universitas, total keseluruhan agresi tenang ini 6000 orang.

Pukul 10.45 – 12.25

Acara penurunan bendera merah putih setengah tiang dengan iringan lagu Indonesia raya yang dikumandangkan secara bersama sama oleh para peserta. Tidak luput lagu mengheningkan cipta ikut dinyanyikan sebagai bentuk rasa keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia ketika itu. Dilanjutkan dengan agresi mimbar bebas yang diisi pembicara oleh para dosen, mahasiswa, maupun karyawan, agresi ini berjalan dengan aman.

Pukul 12.25 – 12.40

Aparat mulai tiba sempurna dilokasi mimbar bebas menciptakan suasana mulai memanas. Para mahasiswa menuntut turun untuk long march untuk menampaikan aspirasinya ke anggota dewan Legislatif MPR/DPR. Selanjunya, penerima demonstrasi berjalan kearah pintu gerbang Jl. Jend S Parman.

Ketika itu juga para abdnegara berkonsentrasi penuh untuk memegang kendali demonstran dengan baris di garis depan pintu gerbang. Sesekali mengatur penerima demo semoga tertib dan tenang ketika turun ke jalan.

Pukul 12.40 – 13.00

Pintu gerbang perlahan mulai dibuka. Para penerima mulai turun secara hati hati menuju perjalanan ke kompleks gedung MPR/DPR melewati Kampus Untar. Namun, rombongan penerima demo terhadang di depan pintu masuk kantor Walikota Jakarta Barat oleh sekelompok barisan barikade kepolisian dengan kelengkapan tameng lengkap.

Pukul 13.00 – 13.20

ketika masa semakin mendesak untuk terus maju menciptakan abdnegara kerepotan, beberapa wakil mahasiswa serta senat universitas trisakti melaksanakan pertemuan dengan pimpinan wakapolres Jakarta Barat dan komando abdnegara Dandim jakarta barat, Letkol inf A. Amril untuk melaksanakan negosiasi.

Peserta demo yang memaksa terus maju menciptakan abdnegara semakin kerepotan ditambah masuknya massa golongan masyarakat yang masuk di sebelah samping long march.

Pukul 13.20 – 14.00

Wakil mahasiswa yang telah melaksanakan perundingan kembali dengan menjelaskan hasil negosiasi. Hasilnya, para mahasiswa tidak diperbolehkan melaksanakan agresi long march dengan alasan bisa menggangu arus lalulintas dan beresiko merusak fasilitas.

Hasil perundingan tersebut tentunya tidak memuaskan untuk para penerima long march alasannya ialah mereka menganggap aksinya ini merupakan agresi damai. Disamping itu, masa terus mendesak bergerak maju yang di iringi kedatangan pasukan pengendalian masa (Dal mas) sebanyak empat truk.

Aksi dilanjutkan dengan mimbar bebas impulsif yang dilakukan didepan kantor walikota Jakarta Barat dengan kondisi tenang dan tenang. Peran mahasiswi membagikan bunga mawar kepada barisan depan aparat. Sementara itu, satgas terus bermunculan untuk mengkondisikan jalannya demonstrasi.

Pukul 14.00 – 16.45

Negosiasi yang kedua sedang berlangsung untuk menemukan jalan untuk menghubungi anggota DPR/MPR. Sementara itu, yel yel dikumandangkan dengan penuh semangat walaupun kondisi ketika itu turun hujan. Hingga balasannya satu persatu mahasiswa mulai meninggalkan kawasan menuju kampus masing masing. Polisi tetap siaga dengan memasang garis polisi berjarak 15 meter dari massa demonstrasi.

Pukul 16.45 – 17.05

Hasil perundingan yang telah dilakukan mengumumkan bahwa masing masing pihak (Mahasiswa maupun Aparat) sama sama untuk mundur. Awalnya mahasiswa menolak, namun sehabis menerima bujukan balasannya mahasiswa mau meninggalkan kawasan dengan syarat abdnegara terlebih dahulu untuk mundur.

Aparat menuruti harapan tersebut, balasannya mahasiswa maupun abdnegara perlahan mulai meninggalkan kawasan dengan tertib. Namun seorang oknum berjulukan Mashud berteriak dengan kata kata kotor dan berangasan mengarah massa yang menciptakan massa kembali bergerak menuju aparat.

Mahasiswa yang awalnya geram mengejar oknum yang berlari kearah abdnegara tersebut balasannya bisa diredam oleh ketua SMUT dan Kepala kamtibpus Trisakti untuk kembali meminta massa mundur dengan tertib.

Pukul 17.05 – 18.30

Mahasiswa yang berhasil untuk mundur mendengar celotehan kata berangasan dan kotor dari barisan abdnegara menciptakan beberapa mahasiswa terpancing emosi bermaksud untuk menyerang aparat. Bersamaan, abdnegara menyerang balik mahasiswa dengan perlengkapan yang lebih lengkap menyerang memakai gas air mata sehingga menciptakan mahasiswa panik berlarian.

Kepanikan yang terjadi menciptakan abdnegara melaksanakan tindakan tidak senonoh dengan menembakan secara membabi buta, pemukulan, popor, pelemparan gas air mata, bahkan melaksanakan tindakan pemerkosaan kepada para mahasiswi. Termasuk juga yang menimpa ketua SMUT yang ketika itu berada di antara barisan aparat.

Hari itu, kejadian kejar kejaran terjadi antara mahasiswa dengan abdnegara disertai tindakan kekerasan dimana mana. mahasiswa dikejar, ditangkap, dianiaya, setelahnya dibiarkan begitu saja tergletak dijalanan.

Penyerbuan abdnegara terhadap mahasiswa trisakti di ricuhkan dengan tembakan terarah ke gerbang trisakti dengan membentuk gugusan merapat siap menembak. Sementara itu abdnegara yang berada di jembatan layang mengarah tembakan kearah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus.

Pukul 18.30 – 19.00

Ricuh mulai mereda, tembakan tak lagi didengar. Para mahasiswa mulai mengevakuasi korban yang berjatuhan. Tidak sedikit para mahasiswa mengalami luka tembak, dan beberapa meninggal dunia. Para korban segera untuk dirujuk ke rumah sakit Sumber Waras.

Berikut ini daftar nama-nama mahasiswa yang gugur dalam kejadian bencana trisakti tahun 98:


  1. Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan)

  2. Hafidin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan jurusan Teknik Sipil)

  3. Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi)

  4. Heri Hertanto (Fakultas Teknologi Industri)

Hasil autopsi mengungkapkan bahwa seluruh korban meninggal mempunyai luka tembak diarea mematikan, yaitu dahi (kepala), Dada, Punggung, Leher. 4 Korban tersebut ditemukan didalam kampus ketika kerusuhan terjadi.

Pukul 19.00 – 19.30

Terlihat beberapa abdnegara dengan pakaian gelap berada di sekitar parkir utama dan sniper di gedung yang masih dibangun. Kondisi ini menciptakan mahasiswa kembali panik berlarian menuju kampus ataupun bersembunyi ditempat yang aman.

Pukul 19.30 – 20.00

Keadaan kembali tenang, mahasiswa berani untuk keluar. kemudian pertemuan dengan Dekan FE meminta kepastian pemulangan para mahasiswa. Kemudian perundingan yang dilakukan Kol. Pol. Arthur Damanik menghasilkan bahwa mahasiswa sanggup pulang dengan jaminan keamanan. Selanjutnya mahasiswa mulai meninggalkan kampus untuk pulang kerumah masing masing.

Pukul 1.30

Jumpa pers dilakukan oleh pangdam jaya Mayjen Tentara Nasional Indonesia Sjafrie Sjamsoedin di Mapolda Metro jaya. Dihadiri oleh Kap. Mayjen Hamami Nata, Rektor Trisakti Prof. Dr. R. Moedanton Moertedjo, dan 2 anggota Komnas HAM bambang W Soeharto, dan AA baramuli.

Lengsernya Soeharto


Tragedi Trisakti menjadi salah satu rangkaian kejadian menuntut reformasi sehabis krisis  Sejarah Tragedi Trisakti 1998, Perjuangan Tegaknya Demokrasi

Dampak bencana trisakti menciptakan pihak universitas trisakti menuntut abdnegara untuk bertanggung jawab terkait kejadian 12 mei 1998 yang mengakhibatkan banyak korban luka maupun jiwa. Dengan tegas, pihak sekolah melarang mahasiswanya untuk mendekati pagar kampus untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.

Namun, sehabis terdengar warta yang terjadi di tanggal 12 mei menciptakan masa semakin tidak terkontrol. Sebuah demonstrasi besar besaran terjadi tanggal 13 mei 1998. Demonstrasi disertai kerusuhan ini awalnya dimulai diarea universitas trisakti saja, namun meluas hingga Bandengan Selatan, jembatan besi, Bendungan Hilir, Kedoya, Tubagus Angke, Kosambi, Semanan.

Aksi anarkisme mewarnai keributan ini. terjadi pembakaran truk angkutan sampah diarea perempatan jalan layang. Pengrusakan fasilitas, serta penjaran toko ada dimana mana. Para demostran melempari dengan apapun mengarah ke abdnegara yang memblokade jalan di depan sebuah Mall Ciputra.

Mereka mencabuti rambu lalulintas, kemudian membakarnya. Aparat terus mencoba menenangkan masa dengan serbuan tembakan peringatan. Banyaknya masa menciptakan abdnegara semakin kewalahan.

Kerusuhan yang mengguncang ibukota menciptakan jalannya pemerintahan tergoyah tidak stabil. Perlu tindakan cepat dan sempurna untuk menuntaskan duduk kasus ini. Hingga akhirnya, tanggal 21 Mei Soeharto menyatakan mengundurkan diri sebagai presiden RI.